Janji Yang Hampir TERlupakan

Ketika saya membuka website angkatan XII SMA Taruna Nusantara. Di halaman depan pasti akan ditemui sebuah puisi yang ditulis oleh teman saya yang bernama Kurnia Purnawati (PeWe). Puisi saat saya baca selalu membuat hati ini rindu akan masa-masa SMA yang penuh dengan gejolak darah muda, yang penuh dengan masa pencarian jati diri, tujuan hidup, cinta, bahkan persahabatan dan pemberontakan.

Ada satu bait di puisi itu yang maksudnya kurang lebih seperti ini:

Kita pernah jatuh sama-sama

Kita bangun sama-sama

Dan kita terbang sama-sama

Maka terbanglah dan aku akan mengikutimu di belahan bumi yang lain.

Akhirnya kenangan masa SMA membawa saya ke sebuah janji yang hampir terlupakan.

TRI PRASETYA SISWA*

Tri Prasetya Siswa Perguruan Taman Taruna Nusantara.

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa;

1. Kami siswa Perguruan Taman Taruna Nusantara yang beriman dan beraqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

Bertanah air satu : Tanah Air Indonesia

Berbangsa satu : Bangsa Indonesia

Berbahsa satu : Bahasa Indonesia

Bernegara satu : Negara Indonesia

 

2. Kami siswa Perguruan Taman Taruna Nusantara adalah putra ibu pertiwi Indonesia.

setia pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Setia pada Pancasila

Setia Kepada Undang-Undang Dasar 1945

Bersedia menyerahkan seluruh jiwa raga bagi cita-cita dan perjuangan Bangsa Indonesia

 

3. Kami siswa Perguruan Taman Taruna Nusantara berkepribadian mandiri dan berjiwa Merdeka. Memegang teguh disiplin, perstuan dan kesatuan, mewujudkan kecerdasan kemajuan dan kesejahteraan dan dimanapun berada selalu memberikan karya terbaik bagi masyarakat, Bangsa, Negara, dan Dunia

* disadur dari buku saku.

Janji ini dulu saya ucapkan dengan biasa saja, bahkan saya tidak merasakan apa-apa ketika mengucapkan Tri Prasetya siswa. Tetapi sekarang setelah saya “terbang”. Janji untuk selalu memberikan karya terbaik bagi masyarakat, Bangsa, Negara dan Dunia menggugah saya, menggugah relung-relung jiwa yang terdalam. Janji yang sebenarnya dapat saya wujudkan.

Di SMA saya diajari banyak hal, bersikap dan berpikiran Nasionalis, bersikap dan bertindak sebagai seorang pemimpin, dan tentu saja berbangga sebagai sebuah bangsa Indonesia. Memang pengalaman saya di SMA yang membentuk saya menjadi seperti ini. Terima Kasih SMA ku. Terima kasih Pamong-pamongku. Dan terima kasih yang tak terhingga untuk teman-temanku yang berada di seluruh penjuru dunia. Semoga kita dapat menepati janji itu.

3 Komentar

  1. Reza de Bhro berkata,

    September 30, 2007 pada 2:35 pm

    Mak…
    Ane salah buka blog, ente bikin ane mellow nginget2 masa SMA nih….

  2. Irwan Yusriadi berkata,

    Oktober 3, 2007 pada 10:12 pm

    Bagus Marwan, benar2 membanggakan, ternyata Abang masih menemukan alumni yg pandai berterima kasih seperti kamu.

  3. mriyandi berkata,

    Oktober 26, 2007 pada 4:26 am

    @ bro : semoga kita selalu ingat dari mana kita berasal, jangan jadi kacang yang lupa kulitnya ( awas lu ya… jadi murtad gara2 terlalu sering ke Geylang di singapore… hahahhahahah

    @ B’Irwan : Biasa aja bang dah sepantasnya kita berterima kasih kepada SMA TN, karena sudah memberikan pendidikan gratis dan pengalaman yang luar biasa.

Tulis sebuah Komentar