April 6, 2008 pada 10:49 pm (Aku berpikir maka Aku ada, Cerita Ngak Penting, Jalan-Jalan, Places)
kegiatan “Alumi STAN Peduli Buku” dilatarbelakangi oleh sebuah buku keren bejudul “Leaving Microsoff To Change The World” yang ditulis oleh John Wood. Buku tersebut sangat Inspiring sungguh. Tujuan dari kegiatan ini sebenarnya simple sangat, hanya ingin merubah keadaan perpustakaan kampus STAN yang sangat minim koleksi bukunya. Buku-buku yang dimiliki pun hanya berkisar tentang accounting, finance, auditing, pajak, Bea cukai, peanggaran negara, keuangan publik atau turunan-turunannya dari kategori-kategori buku diatas. Bahkan tahun terbitan buku-buku tersebut sangat lama berkisar diantara tahun 1990-2000 sangat jarang buku yang terbitan diatas tahun 2000an.
Alumni STAN Peduli Buku diprakarsai oleh segelintir alumni yang masih peduli dengan kondisi almamater tercinta. Alumni-alumni tersebut adalah Yond Rizal, Wahyudi, Buchori Nahar, Bustanul Maftuhin, Jatmiko E Suminar, Indra Jabrix, Ginanjar P.B, Abdul Gaffur A Dama, Jauhari Agung, Hangga S.P dan alumni-alumni lain yang banyak memberikan saran dan bantuan. Kerja keroyokan oleh para alumni ini menunjukkan semangat persaudaraan dalam ikatan alumni sebagai bentuk rasa terima kasih terhadap almamater yang telah berjasa didalam pembentukan karakter dan pendidikan.
Baca entri selengkapnya »
4 Comments
Nopember 28, 2007 pada 3:09 am (Aku berpikir maka Aku ada, Pemikiran gw)
Mukadimah
Departemen Keuangan (Depkeu) sebagai sebuah instansi pemerintah yang memiliki kekuasaan dalam bidang moneter dan fiskal, mempunyai pengaruh yang sangat besar didalam pengeloalaan negara. Depkeu melalui Badan Kajian Fiskal dan Direktorat Jenderal Perpajakan dapat membuat sebuah regulasi perpajakan dan menjalankanya, melalui BAPEPAM dan LK diatur mengenai persyaratan agar sebuah perusahaan dapat “listed” di Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Pada tanggal 3-14 Desember 2007 akan dilaksanakan Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UN Climate Change 2007) di Nusa Dua, Bali. Perubahan iklim telah menjadi isu dunia yang sangat penting, bahkan seorang Kevin Rudd memenangkan pemilihan perdana menteri Australia dengan mengangkat dua isu utama, salah satunya isu pemanasan global. (KOMPAS 26/11/2007). Hal ini menunjukkan sudah saatnya pemerintah Indonesia (melalui Depkeu) mulai peduli terhadap lingkungan. Dengan menerapkan regulasi-regulasi yang berbasis lingkungan.
Isi
BAPEPAM dan LK sebagai sebuah unit eselon I memiliki tugas untuk membina, mengatur, dan mengawasi sehari-hari kegiatan pasar modal serta merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang lembaga keuangan, sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh menteri keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika menganut kepada Dow Jones Sustainability Index (DJSI), yang mengharuskan setiap perusahaan yang akan listed di Dow Jones Stock Market harus menyertakan Sustainable Reporting, dimana di Sustainable Reporting tersebut akan di sajikan mengenai kebijakan perusahaan terhadap lingkungan, maka BAPEPAM dan LK sudah menerapkan hal tersebut dalam Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan nomor: KEP-134/BL/2006 tentang kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi emiten atau perusahaan publik, khususnya pada peraturan Nomor X.K6, tetapi hal itu saja tidak cukup. Sebaiknya BAPEPAM dan LK memiliki kriteria yang jelas mengenai perusahaan yang dapat dikategorikan sebagai perusahaan yang peduli terhadap lingkungan. Misalnya perusahaan yang menerapkan MBIs (Market Base Instruments) atau Environmental Pricing Reform (EPR) dapat dikategorikan sebagai perusahaan yang perduli terhadap lingkungan. Inilah yang disebut dengan regulasi yang berbasis lingkungan.
Badan Kebijakan Fiskal yang bertugas untuk melaksanakan analisi di bidang fiskal dan Direktorat Jenderal Perpajakan yag bertugas untuk melaksanakan regulasi di bidang perpajakan. Kedua instansi tersebut sama-sama memiliki kewenangan di bidang fiskal. Kewenangan tersebut memberikan mereka hak untuk memungut pajak, menetapkan peraturan perpajakan, memberikan insentif dan bahkan keringanan di bidang perpajakan. Regulasi yang berbasis lingkungan versi BKF dan DJP adalah dengan cara memberikan insentif dan keringanan dalam bidang perpajakan bagi perusahaan yang perduli terhadap lingkungan. Perusahaan-perusahaan yang perduli terhadap lingkungan artinya perusahaan yang memiliki kebijakan untuk menjaga kestabilan lingkungannya. contoh kebijakan tersebut misalnya mengkonversi gas buangan dari kegiatan produksi, membangun taman-taman di atap gedung perusahaan tersebut, dll. Sehingga diharapkan dengan adanya insentif dan keringangan perpajakan, maka perusahaan akan berlomba-lomba untuk peduli terhadap lingkungan, walaupun dengan motivasi untuk mendapatkan insentif tersebut.
Penutup
Sebenarnya apabila ditilik lebih lanjut, penyumbang terbesar gas CO2 (salah satu dari enam gas rumah kaca) adalah kegiatan industri, oleh karena itu Depkeu melalui kewenanganya dalam bidang fiskal dan moneter tidak dapat bertindak sebagai single fighter dalam memerangi isu tersebut. Dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak dan regulasi berbasis lingkungan yang komprehensif dan holoistic. Lebih dari pada itu perubahan iklim, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga menjadi tanggung jawab pihak swasta, masyarakat luas, anggota legislatif dan yudikatif. Masalah ini bukan masalah siapa-siapa,tetapi masalah kita semua.
13 Comments
September 21, 2007 pada 12:51 am (Aku berpikir maka Aku ada)
Entah kenapa kata-kata Civil Servant yang diucapkan oleh bang Naufal begitu bergema di hati saya. Mungkin karena terhitung semenjak tanggal 19 september 2007 melalui keputusan direktur Sekolah tinggi Akuntansi Negara.. Saya di tetapkan sebagai calon Pegawai Negeri di Departeman Keuangan. Dengan IPK 3,07 saya menempati peringkat 134 dari 142 lulusan spesialisasi Akuntansi Pemerintahan yang ditempatkan di Departemen Keuangan.
Sungguh merupakan kebanggan yang sangat besar bagi saya, keluarga saya dan kerabat-kerabat saya untuk berbakti sebagai penjaga benteng keuangan negara. Ada hal yang sampai saat ini masih saya pikirkan, mengenai bagaimana cara bekerja, mempertahankan idealisme dan prinsip dalam bekerja.
Baca entri selengkapnya »
11 Comments
September 3, 2007 pada 6:32 am (Pertanyaan2 gw)
Setelah pusing menghadapi ujian Komprehensif tertulis, Saat ini mahasiswa tingkat III Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) spesialisasi Akuntansi Pemerintahan kembali dipusingkan oleh formulir pemilihan instansi.
Pusing karena pilihan yang diberikan semuanya bagus-bagus, mahasiswa tingkat III diharuskan memilih 3 pilihan dari 3 pilihan yang ada berdasarkan skala priortas yang kami ingingkan. Hal ini disebabkan oleh dikeluarkannya Permenkeu No 18 Tahun 2007. Sebelum permenkeu ini diterbitkan, mahasiswa tingkat III diharuskan memilih 3 pilihan dari sekitar 7 sampai 9 pilihan, karena depkeu dirunut lagi sampai ke tingkat eselon satu, seperti Direktorat Jenderal Perpajakan, Direktorat Pelaksana Anggaran, dan direktorat-direktorat lainnya. sedangkan untuk saat ini hanya ada 3 pilihan. Pilihan-pilihan tersebut adalah:
1. Departemen Keuangan
Depkeu dengan renumerisasinya cukup mengiurkan, apalagi prospek karir kedepan yang cukup menjanjikan dan mayoritas lulusan STAN memang masuk ke departemen keuangan. Kekurangan dari bekerja di departemen keuangan adalah kesempatan sekolah yang dibatasi dan peraturan-peraturan pelaksana yang sangat tidak menguntungkan bagi para PNS berNIP 06 yang tugas belajar.
2. Badan Pemeriksa Keuangan.
BPK sebagai lembaga tinggi negara memiliki kekuatan yang luar biasa dalam melakukan audit, hal ini menjadi salah satu daya tarik BPK untuk dimasuki, daya tarik yang lainnya adalah kesempatan belajar yang sangat terbuka lebar bagi para PNS BPK, walaupun BPK sebagai lembaga tinggi negara, tetapi penghasilan yang ditawarkan masih sangat rendah dibandingkan dengan renumerisasinya depkeu. Penghasilan tersebut tidak sebanding dengan beban kerja dan tanggung jawab yang diemban oleh para auditor BPK.
3. Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan
Menurut Saya, BPKP kurang diminati oleh mahasiswa tingkat III. Hal ini disebabkan karena semakin kecilnya ruang lingkup pemeriksaan, tetapi kesempatan yang diberikan untuk melanjutkan pendidkan lebih terbuka jika dibandingkan dengan Depkeu. dari segi penghasilan BPKP masih berada jauh dibawah depkeu.
Baca entri selengkapnya »
12 Comments
Agustus 17, 2007 pada 7:03 am (Aku berpikir maka Aku ada, Pemikiran gw)
Saat ini Indonesia telah berumur 62 tahun. Kalau indonesia adalah umat Nabi Muhammad SAW. Maka ia pastilah sudah sangat tua. Idealnya umur seorang umat Muhammad adalah 63 tahun. Itu berarti Indonesia sudah hampir mendaki akhir usianya. Indonesia bukan seorang manusia, Indonesia juga bukan umat Nabi Muhammad, Tapi Indonesia memang semakin mendekati ajalnya. Ajal sebagai sebuah bangsa. Indonesia adalah sebuah bangsa yang lahir 62 tahun silam. Selama perjalannya dia telah sakit berkali-kali. Di usianya yang masih sangat muda, dia sakit karena tragedi G30S PKI dan krisis moneter, sakit karena gerakan ganyang Malaysia, dan sakit lagi karena krisis moneter di asia.
Sekarang, apakah ia telah bangkit? Telah bangkit atas keterpurukan di masa lalu?
Baca entri selengkapnya »
8 Comments
Agustus 13, 2007 pada 10:23 pm (Aku berpikir maka Aku ada, Pemikiran gw)
Menurut GRI (Global Reporting Initiative) sustainable development adalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mempertimbangkan kebutuhan dimasa yang akan datang. Sustainable sendiri dalam Bahasa Indonesia artinya berkelanjutan sehingga Sustainable Development adalah suatu pembangunan yang berkelanjutan. Pada Top class company, sustainable development sudah diharuskan, karena untuk suatu perusahaan setingkat mereka, pola pikir para manajemen bukan hanya bagaimana cara mencari profit sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana cara perusahaan agar dapat bertahan (sustain). Contohnya adalah suatu perusahaan mempunyai program selama lima tahun mendatang, program tersebut adalah bagaimana agar perusahaan dapat merebut pangsa pasar di asia, khususnya asia tenggara, maka perusahaan akan membuat proker dalam satu tahun agar mendukung program lima tahun mereka.
Baca entri selengkapnya »
4 Comments
Juli 25, 2007 pada 11:59 pm (Aku berpikir maka Aku ada, Pertanyaan2 gw)
Akhirnya hari ini aku berkunjung kedunia
Melintasi gang-gang kecil dengan selokan kotor dan mampet
dikiri kananku. Melihat rumah berdinding seng dan beratap genteng.
ada anak kecil dengan hidung berlendir dipojok jalan. dia tertawa dengan riangnya
bermain dan menikmati masanya
Lalu aku bertemu mesjid yang kecil itu, tidak dia ternyata tidak kecil
Baca entri selengkapnya »
Comments
Juli 25, 2007 pada 12:17 am (Aku berpikir maka Aku ada, Pertanyaan2 gw)
Apa yang lu pikirin ketika lu sedang berada di kantor yang terletak pada lantai paling atas dan ngelihat keluar?
Apa yang lu pikirin ketika lu melihat orang2 diluar gedung berjalan
bagaikan semut yang kecil, kepanasan dan berdesak-desakkan
sementara lu lagi dikantor kedinginan karena AC?
Apa yang lu pikirin ketika lu ngelihat masjid dan musholla di kejauhan
dan mereka berada dibawah lu, kecil dan tertutupi oleh gedung-gedung yang megah?
Apakah lu ngerasa bahwa lu hebat?
apakah lu ngerasa bahwa lu berada didunia yang berbeda?
atau malah lu ngak ngerasain apa-apa? Baca entri selengkapnya »
1 Comments
Juli 22, 2007 pada 7:43 pm (Buku yang gw baca, Ngebacot ngak jelas, Pemikiran gw)
Buku ini baru beberapa halaman gw baca. Baru beberapa teorynya do’i yang gw ngerti, Lumyanlah bt berat2rin tas. Seru juga ngebaca pemikiran dia terutama bot teor refleksivitas. Jadi ceritanya gini, menurut do’i ada hubungan antara keadaan lingkungan dan pola pikir. kedua hal ini saling mempengaruhi kaya aski reaksinya difisika, cuman ngak sama persis kaya gitu. om george soros bilang bahwa pemikiran seseorang mempengaruhi lingungan disekitarnya dan lingkungan yang berubah itu juga mempengaruhi pemikirannya. Oleh karena itu teory ini disebut teory refleksivitas. contoh di kehidupan nyata yang dapat gw ambil tu kaya gini. Dulu di kampus gw ngak ada hotspot, trus beberapa orang mikir gimana kampus biar ada hotspotnya. Setelah ada hotspot mereka nyadar, ternyata yang bisa akses ke internet baru sebagian orang (yang punya laptop doang) akhirnya mereka mikir gimana caranya agar anak kampus pada punya lapatop, ya.. ngak usah bagus2lah yang biasa aja yang penting murah dan bisa akses internet. pemikiran mereka dipengaruhi keadaan kampus (ngak ada hotspot) trus keadaan kampus dipengaruhi oleh pemikiran mereka (adanya hotspot) kaya gitu sich yang gw tangkap bot teori ini.
Teori kedua yang gw baca tentang partispian VS pengamat. partisipan itu gw ibaratkan kaya seseorang yang berada di suatu lingkaran (lingkungan) dimana dia merasa bagian dari lingkungan tersebut. sementara pengamat adalah seseorang yang merasa berada diluar lingkaran dan dia hanya mengamati lingkaran tersebut dan tidak mau untuk mengubah lingkaran itu. Bedanya apa., selain yang gw ceritain diatas, para partisipan selalu berpikir dan berusaha mengambil suatu tindakan Real (nyata) untuk merubah lingkaran mereka. sedangkan para pengamat hanya bersifat melihat tanpa adanya keinginan untuk merubah lingkaran tersebut karena (menurut gw) mereka ngak ngerasa bahwa mereka bagian dari lingkaran itu.
Selain itu Uncle George berpendapat bahwa saat ini ilmu pengetahuan semakin bertolak belakang dengan realitas yang ada. dalam hal ini dia menggunakan contoh teori pasar bebas, ternyata pasar bebas tidak memberikan solusi atas permasalahan ekonomi majro yang ada saat ini, menurut pasar bebas perekonomian diserahkan kepada pasar, tingkat harga ditentukan oleh pasar (benerin kalo gw salah). lalu… realita yang ada apa??? pengangguran masih banyak, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, memang tidak sepenuhnya kesalahan pasar bebas, tetapi dalam hal ini prinsip perekonomian pasar bebas memberikan andil yang cukup besar, pertanyaan selanjutnya kenapa bisa seperti ini dan bagaimana solusinya???
menurut gw hal ini disebabkan oleh karena masyarakat dunia mayoritas berada dalam kemapanan sosial yang tinggi (kemapanan sosial yang tinggi=pendapatan perkapita yang gede, pendidikan yang layak dan mudah, akses informasi yang luas, dll) na… karena masyarakat pada umumnya merasa sudah comfort ato nyaman, maka mereka takut ato menolak pemikiran bahwa sebenarnya mereka itu berada dalam kemapanan yang rawan, artinya pemahaman ato prinsip ato yang lebih ekstrim “perubahan” ditolak oleh mereka. karena logikanya ngapain gw berubah kan kaya gini aja udah nyaman…
Baru segini nich yang gw dapet dari buku itu, banyak banget yang belum gw baca.. Masih bab satu sich… Jadi ntar kalo da lanjutannya gw obrolin disini…
2 Comments