Open Societynya George Soros
Juli 22, 2007 pada 7:43 pm (Buku yang gw baca, Ngebacot ngak jelas, Pemikiran gw)
Buku ini baru beberapa halaman gw baca. Baru beberapa teorynya do’i yang gw ngerti, Lumyanlah bt berat2rin tas. Seru juga ngebaca pemikiran dia terutama bot teor refleksivitas. Jadi ceritanya gini, menurut do’i ada hubungan antara keadaan lingkungan dan pola pikir. kedua hal ini saling mempengaruhi kaya aski reaksinya difisika, cuman ngak sama persis kaya gitu. om george soros bilang bahwa pemikiran seseorang mempengaruhi lingungan disekitarnya dan lingkungan yang berubah itu juga mempengaruhi pemikirannya. Oleh karena itu teory ini disebut teory refleksivitas. contoh di kehidupan nyata yang dapat gw ambil tu kaya gini. Dulu di kampus gw ngak ada hotspot, trus beberapa orang mikir gimana kampus biar ada hotspotnya. Setelah ada hotspot mereka nyadar, ternyata yang bisa akses ke internet baru sebagian orang (yang punya laptop doang) akhirnya mereka mikir gimana caranya agar anak kampus pada punya lapatop, ya.. ngak usah bagus2lah yang biasa aja yang penting murah dan bisa akses internet. pemikiran mereka dipengaruhi keadaan kampus (ngak ada hotspot) trus keadaan kampus dipengaruhi oleh pemikiran mereka (adanya hotspot) kaya gitu sich yang gw tangkap bot teori ini.
Teori kedua yang gw baca tentang partispian VS pengamat. partisipan itu gw ibaratkan kaya seseorang yang berada di suatu lingkaran (lingkungan) dimana dia merasa bagian dari lingkungan tersebut. sementara pengamat adalah seseorang yang merasa berada diluar lingkaran dan dia hanya mengamati lingkaran tersebut dan tidak mau untuk mengubah lingkaran itu. Bedanya apa., selain yang gw ceritain diatas, para partisipan selalu berpikir dan berusaha mengambil suatu tindakan Real (nyata) untuk merubah lingkaran mereka. sedangkan para pengamat hanya bersifat melihat tanpa adanya keinginan untuk merubah lingkaran tersebut karena (menurut gw) mereka ngak ngerasa bahwa mereka bagian dari lingkaran itu.
Selain itu Uncle George berpendapat bahwa saat ini ilmu pengetahuan semakin bertolak belakang dengan realitas yang ada. dalam hal ini dia menggunakan contoh teori pasar bebas, ternyata pasar bebas tidak memberikan solusi atas permasalahan ekonomi majro yang ada saat ini, menurut pasar bebas perekonomian diserahkan kepada pasar, tingkat harga ditentukan oleh pasar (benerin kalo gw salah). lalu… realita yang ada apa??? pengangguran masih banyak, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, memang tidak sepenuhnya kesalahan pasar bebas, tetapi dalam hal ini prinsip perekonomian pasar bebas memberikan andil yang cukup besar, pertanyaan selanjutnya kenapa bisa seperti ini dan bagaimana solusinya???
menurut gw hal ini disebabkan oleh karena masyarakat dunia mayoritas berada dalam kemapanan sosial yang tinggi (kemapanan sosial yang tinggi=pendapatan perkapita yang gede, pendidikan yang layak dan mudah, akses informasi yang luas, dll) na… karena masyarakat pada umumnya merasa sudah comfort ato nyaman, maka mereka takut ato menolak pemikiran bahwa sebenarnya mereka itu berada dalam kemapanan yang rawan, artinya pemahaman ato prinsip ato yang lebih ekstrim “perubahan” ditolak oleh mereka. karena logikanya ngapain gw berubah kan kaya gini aja udah nyaman…
Baru segini nich yang gw dapet dari buku itu, banyak banget yang belum gw baca.. Masih bab satu sich… Jadi ntar kalo da lanjutannya gw obrolin disini…
